Hindari Kejahatan Seksual Anak - Peran sebagai orangtua, tentu
kita berusaha menjauhkan anak dari bahaya kejahatan seksual. Namun, kemampuan
para predator kejahatan seksual menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun
ancaman, memang menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Tanpa bermaksud
menakuti-nakuti, bukan tidak mungkin, anak Anda –bahkan yang masih berusia
balita– menjadi sasaran berikutnya.
Berikut tips sederhana yang dapat
Anda ajarkan pada :
Gunakan istilah sebenarnya
Ketika Anda mengajari anak, “Ini
namanya hidung, yang ini kaki”, perkenalkan juga alat kelamin dengan istilah
asli. Biasakan menyebut ‘penis’ untuk anak laki-laki dan ‘vagina’ untuk anak
perempuan –tidak ada bedanya dengan menyebut organ tubuh lain. Pembiasaan
menggunakan istilah asli adalah langkah pertama pendidikan seks anak. Ketika
jika suatu waktu anak mengalami kejahatan seksual, ia bisa mengomunikasikannya
dengan bahasa yang dipahami orang lain.
Ajarkan konsep privasi
Beritahu anak bahwa tidak semua
orang boleh melihat, apalagi menyentuh alat kelaminnya. Ajarkan padanya siapa
saja yang boleh, dan dalam situasi apa. Misalnya, boleh oleh dokter saat
memeriksa, atau pengasuh saat memandikan. Anda pun harus mendukung anak dalam
menjaga privasinya, misalnya dengan tidak menelanjangkan anak di tempat umum
ketika berganti baju di pinggir kolam renang atau pantai, misalnya. Biasakan
mengajak anak mengganti bajunya di ruang tertutup, meski untuk itu Anda mungkin
akan lebih repot. Hindari pula mengunggah foto anak tanpa busana di situs
jejaring sosial. Anda tidak pernah tahu akan adanya ancaman predator yang
bergerilya di dunia maya.
Bedakan jenis sentuhan
Ajarkan pada anak mengenai
sentuhan di tubuhnya. Ada tiga jenis sentuhan yang perlu anak ketahui :
1.
Sentuhan baik dan boleh, yaitu sentuhan dari orang lain menggunakan tangan yang
dilakukan di bagian tubuh di atas bahu dan di bawah lutut, yang merupakan
sentuhan karena kasih sayang, seperti membelai kepala dan mencubit pipi.
2.
Sentuhan harus waspada, karena membingungkan untuk menilainya sebagai bermaksud
sayang atau napsu, yang merupakan sentuhan di bawah bahu hingga atas lutut
tubuh anak.
3. Sentuhan jelek dan terlarang, yaitu orang lain menyentuh bagian
tubuh yang tertutup pakaian renang. Bila ada yang melakukan sentuhan di area
ini, anak harus berani menolak dan berkata tegas, misalnya dengan bilang,
"Jangan begitu!"
Hargai pendapat anak
Saat anak tidak mau bersalaman
dengan teman Anda yang baru dikenalnya, biarkan saja. Tidak perlu dibujuk
terus-terusan, apalagi langsung dimarahi, agar ia berubah pikiran. Hargai
kemampuan anak untuk bilang tidak. Kemampuan ini merupakan latihan, akan ada momen-momen
di kemudian hari saat mereka harus berani berkata “Tidak!” –termasuk saat
merasa terganggu jika ada yang menyentuhnya.
Pelaku kerap mengamati aktivitas
targetnya saat anak-anak beraktivitas atau bermain
Hindari risiko mengundang pelaku
dengan meminta anak mengenakan pakaian yang sopan. "Jangan gunakan busana
yang ketat, pendek, dan tipis. Jika baju anak basah karena keringat saat olah
raga atau terkena hujan, segera minta ia menggantinya."
Baju yang basah membuat lekuk
tubuh anak terlihat nyata dan membangkitkan syahwat pemangsa. Jika anak Anda
perempuan, kenakan celana rok di bagian dalam gaun sehingga aman saat gaunnya
tersingkap ketika berlari atau bermain.
Ajarkan anak menandai sentuhan
yang normal dan tidak normal serta bagian mana dari tubuhnya yang boleh
disentuh dan tidak
Bagian genitalia hanya boleh
disentuh oleh dirinya dan petugas medis seperti dokter dengan pendampingan
orangtua. Praktikkan agar anak Anda tahu. Bagi anak yang masih kecil dan
membutuhkan bantuan orang lain untuk membersihkan dirinya, beritahu bahwa saat
orang lain membantu membersihkan dirinya di kamar mandi, pintu harus dalam
keadaan sedikit terbuka, tidak boleh terkunci. Tujuannya jika orang yang
membantunya melakukan hal yang membahayakan dirinya anak bisa berteriak dan
lari.
Kadang pelaku juga mengajak anak
bermain, yang kalah membuka atau menyingkap bajunya
Beritahu anak bahwa tak ada yang
boleh menyingkap bajunya dan ia tak diiZinkan memperlihatkan genitalianya pada
siapa pun dengan alasan apa pun. "Waspada, pedofil sangat kreatif mencari
mangsanya."
Tidak berbicara pada orang asing
tak dikenal terutama saat anak seorang diri dan berada di tempat asing tak
dikenalnya.